Total Pengunjung

Follow Me On Twitter

Hi there!

Foto saya
Hi! Smile for this day. God loves you

Senin, 20 Maret 2017

PEMBELAJARAN DAN PENDEKATAN BEHAVIORAL

TUGAS RESUME (II)
BAB 7 PENDIDIKAN KELAS A


Pendekatan Behavioral  Dan Kognitif Untuk Pembelajaran


BEHAVIORAL CONDITIONING

I. Classical Conditioning
          Classical conditioning pertama kali diperkenalkan oleh Ivan P. Pavlov (1849 – 1936). 
Classical conditioning merupakan sebentuk pembelajaran asosiatif dimana stimulus netral menjadi diasosiasikan dengan stimulus bermakna dan menimbulkan kemampuan untuk mengeluarkan respon yang serupa.4 kunci penting dalam memahami teori classical conditioning, yaitu :
  1. Unconditioned Stimulus (US)
  2. Uncontitioned Respon (UR)
  3. Conditioned Stimulus (CS)
  4. Conditioned Respon (CR)


CONTOH KASUS CLASSICAL CONDITIONING:

1.  Sebuah bunyi pistol yang awalnya merupakan stimulus netral. Ketika seorang anak mendengar bunyi pistol dan orang di hadapannya tertembak dan meninggal. Maka dia menangis setiap kali mendengar suara pistol. Jadi bunyi pistol (CS) diasosiasikan dengan orang meninggal (US) maka menangis adalah (UR) dan (CR).

2. Waktu masih kecil, setiap ada bunyi yang lewat dari depan rumah, saya selalu, Segera berlari keluar utk membeli bakso tusuk. Ternyata yg lewat tukang –Siomay. Sejak saat itu, lama-kelamaan saya mulai terbiasa untuk membedakan bunyi2 yg lewat dari depan rumah saya. Hingga suatu hari, walaupun banyak bunyi jualan yg lewat, saya sudah bisa mengenal bunyi bakso bakar yg lewat.

3. Ani sangat senang menonton film kartun. Suatu hari ibunya menyalakan TV dan memutar film kartun,Ani merasa sangat senang.Jadi, setiap kali Ani mendengar ibunya menyalakan TV Ani akan berlari dan merasa senang.

4.Saya termasuk penggemar dari panganan Bakso. Penjual bakso tersebut menjual dagangannya dengan cara berkeliling dengan menggunakan motor dan sebagai penanda/penarik perhatian, ada benda yang mengeluarkan sebuah bunyi. Bunyi terompet angin di letakan di dekat rem tangan motornya itu. Bunyi itu juga memiliki suara jangkauan yang lumayan besar. Nah, di saat-saat awal dulu, saya keluar dari rumah untuk membelinya hanya jika penjual bakso itu telah berada hampir di depan rumah. Namun, lama kelamaan saya terbiasa dengan bunyi yang dikeluarkan oleh penjual itu. Dan akhirnya sekarang ini hanya dengan mendengar suaranya saja saya langsung bergegas keluar rumah.

5. Adik saya, mulanya tidak takut dengan hal yang berbau dengan “hantu”. Atau hantu disini awalnya sebagai stimulus netral. Dahulunya ia memang tidak takut juga. Namun dikarenakan efek pengkondisisan berupa suara-suara yang menakutkan dan rupa wajah yang menakutkan juga ia lama kelamaan menjadi takut terhadap hal yang berbau hantu. Dan pada ahkirnya apabila ia ingin buang air kecil pada malam hari identik dengan kesan hantu dan segala macama nya, ia akan memilih menahan buang airnya ditoilet ditambah lagi waktunya pada malam hari.


II. Operant Conditioning
            Operant Conditioning adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. (Reber (Muhibin Syah, 2003))

CONTOH KASUS OPERANT CONDITIONING

1. Ketika sudah tiba tahun baru, saya selalu menelepon kakek dan nenek saya dan mendapatkan pujian “anak baik” dan mendapat uang tahun baru. Sehingga saya tidak pernah melupakan untuk menelepon kakek dan nenek saya menjelang tahun baru.

2. Suatu malam Bayu menonton televisi di kamarnya, ketika ibunya masuk ke kamarnya , ibunya mematikan televisi tersebut dan menyuruhnya mengerjakan PR nya dan Ibunya berkata "kalau PR-mu belum siap kamu dilarang menonton televisi". Semenjak nasihat ibunya itu Bayu selalu mengerjakan PR terlebih dahulu dan setelah selesai baru Ia menonton televisi.

3. Suatu saya masih duduk dikelas SMP (Sekolah Menengah Pertama) saya dijanjikan oleh ayah saya akan dibelikan sebuah sepeda, akan tetapi ayah saya meminta persyaratan kalau janji nya itu tidak ada latar belakang nya. Latar belakang nya yaitu kalau saya harus mendapat kan prestasi yang menonjol didalam sekolah, saya harus mendapatkan ranking 5 besar supaya sepeda yang dijanjikan akan segera dibelikan, oleh karena itu saya rajin membuka buku dan belajar untuk mendapatkan sepeda tersebut. Ahkirnya pada pembagian rapot SMP saya mendapatkan rangking 5 besar dan dibelikan sepeda kepada ayah saya karena sudah dijanjikan sebelum nya.

4. Saat saya kelas 4 SD saya pernah dimarahi guru dan dihukum lari keliling lapangan serta membersihkan kamar mandi karena terlambat. Saya merasa tidak senang dengan hukuman yang saya terima. Keesokan harinya,saya berusaha datang lebih cepat agar tidak terlambat dan saat itu saya datang tepat waktu sehingga guru tidak marah. Jadi, karena saya tidak suka dihukum saya lebih berusaha agar tidak datang terlambat lagi ke sekolah.

5. Pada saat saya masih berada di bangku seolah kelas dua SMA, suatu waktu saya lupa membawa Kamus Bahasa Inggris. Tetapi, kemudian pada pertemuan berikutnya, saya selalu membawa kamus bahasa inggris.
Saya tidak membawa Kamus Saya tidak diizinkan berada di dalam kelas.
Pada permasalahn ini, saya terkena hukuman (punishment) untuk dapat menghilangkan perilaku saya. Hukuman ini merupakan hukuman yang diberikan dengan maksud untuk menghilangkan/memusnahkan sebuah perilaku. Maka dalam memberi punishment merupakan sikap guru saya yang tidak mengizinkan saya masuk ke dalam kelas karena saya tidak membawa buku kamus bahasa inggris.


III. Contoh Pendekatan Kognitif Untuk Pembelajaran

             Teori kognitif mengacu pada wacana psikologi kognitif, dan berupaya menganalisis secara ilmiah proses mental dan struktur ingatan atau cognition dalam aktifitas belajar. Cognition diartikan sebagai aktifitas mengetahui, memperoleh, mengorganisasikan, dan menggunakan pengetahuan (Lefrancois, 1985).

CONTOH KASUS PEMBELAJARAN MELALUI PENDEKATAN KOGNITIF

1. Rina tidak suka meminum obat walaupun ia sedang sakit. Suatu hari Rina sakit demam dimana 3 hari lagi akan diadakan UAS, karena Rina takut tidak bisa ikut ujian dan harus ikut ujian susulan Rina pun meminum obatnya walaupun ia tidak suka.

2. Anak-anak dapat menyelesaikan tugas-tugas lebih sulit ketika mereka memiliki bantuan dari banyak orang yang lebih paham atau pandai dan kompeten dari diri mereka.

3. Dinda adalah seorang mahasiwa di Universitas Sumatera Utara. Dinda merupakan perokok aktif dan berat. Sebenarnya, Dinda tahu bahwa merokok tidak baik apalagi bagi kalangan wanita, resiko yang dihadapi akan sangat besar. Karena Dinda mengetahui dampak dari perilakunya dengan adanya program motivasi merokok merusak kesehatan dan dia ingin mengakhirinya, maka dia termotivasi serta berusaha keras untuk lepas 
dari rokok.

4. Rinda selalu bermain puzzle di gadgetnya, pada percobaan pertama Ia selalu gagal dikarenakan belum terbiasa bermain puzzel digadgetnya, setelah mencoba beberapa kali Rinda pun berhasil memenangkan permainan tersebut menggunakan beberapa strategi dengan skor yang sangat tinggi.

5.Pada suatu materi pelajaran dosen menjelaskan gambaran umum dari materi yang berupa kumpulan dasar perhitungan dan pengertian umum, lalu yang kemudian memberikan contoh-contoh soal untuk diselesaikan dalam ukuran ataupun kurun waktu tertentu oleh masing-masing mahasiswa. Sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu dalam bentuk perilaku di lapangan (kehidupan sehari-hari).


Thankyou! ^_^

0 komentar:

Posting Komentar

 

Talenta's World Template by Ipietoon Cute Blog Design